http://dvdmurottal4mode.blogspot.com/


Headlines News :

Cetakan Coklat

    bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
    Paket Minyak Cinta 300x250
    Tampilkan postingan dengan label Parenting Islam. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Parenting Islam. Tampilkan semua postingan

    Baru Talak Satu Dan Dua, Jangan Tinggalkan Istrimu

    Masih ada salah kaprah di masyarakat kita, yaitu ketika seorang suami menjatuhkan talak ra’jiy atau menceraikan istrinya. Maka statusnya langsung bukan suami istri. Maka baru saja talak terjadi dan belum habis masa iddah, semua sudah dipisahkan. Istri langsung pulang ke rumah orang tua, barang-barang punya istri langsung diangkat dan harta langsung dipisahkan.
    Syaikh Muhammad bin Shalih AL-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
    وما كان الناس عليه الآن من كون المرأة إذا طلقت طلاقاً رجعياً تنصرف إلى بيت أهلها فوراً ، هذا خطأ ومحرم
    “Manusia pada saat ini (beranggapan) status istri jika ditalak dengan talak raj’iy (masih talak satu dan dua), maka istri langsung segera pulang ke rumah keluarganya. Ini adalah kesalahan dan diharamkan.”[1]

    Talak satu dan dua masih bisa balik rujuk (talak raj’iy)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    لطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
    “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan baik” (Al-Baqarah: 229)
    Dan selama itu suami berhak merujuk kembali walaupun tanpa persetujuan istri.
    Allah Ta’ala berfirman,
    وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا
    Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (masa ‘iddah). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa ‘iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah” (Al Baqarah: 228).

    Jangan segera berpisah
    Suami istri bahkan diperintahkan tetap tinggal satu rumah. Demikianlah ajaran islam, karena dengan demikian suami diharapkan bisa menimbang kembali dengan melihat istrinya yang tetap di rumah dan mengurus rumahnya.
    Demikian juga istri diharapkan mau ber-islah karena melihat suami tetap memberi nafkah dan tempat tinggal.
    Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِنَّمَا النَّفَقَةُ وَالسُّكْنَى لِلْمَرْأَةِ إِذَاكَانَ لِزَوْجِهَا عَلَيْهَا الرَّجْعَةُ .
    Nafkah dan tempat tinggal adalah hak istri, jika suami memiliki hak rujuk kepadanya.”[2]
    Allah Ta’ala berfirman,
    لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ
    Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” QS. Ath Thalaq: 1.
    Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,
    وَقَوْلُهُ: {لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ} أَيْ: فِي مُدَّةِ الْعِدَّةِ لَهَا حَقُّ السُّكْنَى عَلَى الزَّوْجِ مَا دَامَتْ مُعْتَدَّةً مِنْهُ، فَلَيْسَ لِلرَّجُلِ أَنْ يُخْرِجَهَا، وَلَا يَجُوزَ لَهَا أَيْضًا الْخُرُوجُ لِأَنَّهَا مُعْتَقَلَةٌ (3) لِحَقِّ الزَّوْجِ أَيْضًا.
    “Yaitu: dalam jangka waktu iddah, wanita mempunyai hak tinggal di rumah suaminya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi suaminya mengeluarkannya. Tidak bolehnya keluar dari rumah karena statusnya masih wanita yang ditalak dan masih ada hak suaminya juga (hak untuk merujuk).” [3]

    Istri yang ditalak raj’iy berdosa jika keluar dari rumah suami
    Al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan,
    : أي ليس للزوج أن يخرجها من مسكن النكاح ما دامت في العدة ولا يجوز لها الخروج أيضاً الحق الزوج إلا لضرورة ظاهرة؛ فإن خرجت أثمت ولا تنقطع العدة
    “yaitu tidak boleh bagi suami mengeluarkan istrinya dari rumahnya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi wanita keluar juga karena (masih ada) hak suaminya kecuali pada keadaan darurat yang nyata. Jika sang istri keluar maka ia berdosa dan tidaklah terputus masa iddahnya.”[4]

    Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,
    تأثم المعتدة من طلاق رجعي إذا خرجت من بيت مطلقها من غير إخراج لها ، إلا إذا دعت إلى خروجها ضرورة ، أو حاجة تبيح لها ذلك
    Mendapat dosa jika wanita yang ditalak raj’iy jika keluar dari rumah suaminya, asalkan tidak dikeluarkan (diusir). Kecuali jika ada keperluan darurat yang membolehkannya.”[5]

    Semoga bisa menimbang kembali
    Mengenai ayat,
    لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا
    Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru” (Ath- Thalaq: 1).

    Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,
    أي: إنما أبقينا المطلقة في منزل الزوج في مدة العدة، لعل الزوج يندم على طلاقها ويخلق الله في قلبه رجعتها، فيكون ذلك أيسر وأسهل.
     “Istri yang dicerai tetap diperintahkan untuk tinggal di rumah suami selama masa ‘iddahnya. Karena bisa jadi suami itu menyesali talak pada istrinya. Lalu Allah membuat hatinya untuk kembali rujuk. Jadilah hal itu mudah”.[6]

    Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
    11 Shafar 1434 H
    Penyusun: Raehanul Bahraen

    Penjara Cinta; Belajar Dari Nabi Yusuf

    Belajar dari laki-laki paling tampan di muka bumi. Andai ketampanan adalah bumi, maka separuhnya ia miliki sendiri. Nabiyullah Yusuf alaihis salam. Kisahnya ditulis dengan penuh mukjizat dalam Al Quran. Dikumpulkan dalam satu surat tersendiri.
    Singkat cerita, karena Yusuf tidak mau menuruti keinginan nista istri penguasa Mesir, maka akhirnya Yusuf harus merasakan getirnya penjara. Bertahun-tahun lamanya.
    Tapi Yusuf tetap mulia. Karena penjara bersaksi akan kemuliaannya. Dan ia masuk ke dalamnya bukan karena kesalahan. Justru yang salah adalah yang memenjara.
    Ingin tahu apa kemuliaan yang dilakukan oleh Yusuf dalam penjara? Ini kisahnya dan berikut hikmahnya tentang penjara cinta.

    Dia menghibur orang yang sedih, menjenguk yang sakit, mengobati yang terluka, shalat sepanjang malam, menangis hingga dinding, atap dan pintu ikut menangis, penjara menjadi suci karenanya, para penghuni penjara merasa nyaman dengannya, jika ada seseorang yang telah keluar dari hukuman penjara, ia akan kembali untuk duduk di penjara dengan Yusuf. Penjaga penjara pun mencintainya hingga ia berikan keluasan.
    Ada yang berkata: Wahai Yusuf, sungguh aku mencitaimu dengan kecintaan yang belum pernah aku miliki sebelumnya.
    Yusuf menjawab: Aku berlindung kepada Allah dari cintamu.
    Orang itu bertanya heran: Mengapa begitu?
    Yusuf menjawab: Aku dicintai ayahku, maka saudara-saudaraku berbuat makar kepadaku. Tuan wanitaku mencintaiku, maka aku dipenjara seperti yang kau lihat. (Dari Ibnu Abbas, lihat: Tafsir Al Qurthubi)
    Sungguh mulia jiwa Yusuf. Ia mulia sebelum masuk penjara. Dan tetap mulia walau dikurung dalam penjara.
    Kita ingin belajar dari dialog Yusuf dengan pengagumnya yang mengaguminya karena ilmu dan kesholehannya. Rasa cinta yang begitu luar biasa. Bahkan hatinya belum pernah dirambati cinta sedahsyat cintanya pada Yusuf.
    Aku berlindung kepada Allah dari cintamu.....
    Kalimat Yusuf ini tentu mengejutkan muridnya yang menyatakan cintanya.
    Kemudian Yusuf pun menjelaskan. Agar semua kita belajar. Kepada siapapun cinta ini kita kirimkan. Dari manapun cinta itu kita dapatkan.
    Dulu Yusuf sangat dicintai ayahnya dan hal ini membuat kecemburuan pada saudara-saudara Yusuf. Dan Yusuf pun harus merana justru karena cinta sang ayah. Yang mengirimnya ke dalam penjara sumur dan selanjutnya menjadikan ia seorang budak.
    Kemudian Yusuf yang tumbuh dalam istana di asuh oleh keluarga raja. Ketampanan Yusuf menjadi fitnah yang mengguncang kamar istri penguasa. Cinta tumbuh karenanya. Wanita itu menggoda Yusuf dalam jeratan cintanya. Yusuf berhasil keluar dari jaring laba-laba makar wanita. Dan cinta itu justru mengirim Yusuf harus mendekam dalam penjara bertahun-tahun lamanya.
    Ya, karenanya cinta yang kita terima atau yang kita kirimkan tak boleh menjadi penjara. Karena penjara membatasi ruang gerak kita.
    Kecintaan orangtua kepada anaknya tidak boleh membuat anak-anak terbang rendah serendah orangtuanya. Mereka mempunyai kehebatan yang melebihi kita. Itu harus kita yakini. Biarkan mereka terbang tinggi ‘meninggalkan’ kita.
    Jangan atas nama cinta ilmu mereka menjadi kerdil. Mereka diarahkan kepada ilmu yang tidak dinikmatinya. Ilmu Islam mereka sama compang-campingnya dengan orangtuanya. Mereka tak mempunyai Al Quran, karena menghapal Al Quran di waktu kecil dianggap tidak ramah otak. Mereka dijejali dengan berbagai ilmu tapi tak satupun ilmu yang membuatnya menjadi ahli.
    Jangan atas nama cinta kesehatan mereka malah terganggu. Mereka hidup ‘sangat higienis’ tak boleh lepas sandal di manapun, haram menyentuh tanah karena kotor dan bercacing, tak boleh merasakan berkahnya tetesan hujan karena dianggap hujan pembawa sial.
    Jangan atas nama cinta ujungnya kita menyesal karena mereka tak kunjung sholeh. Mereka selalu dianggap kecil padahal telah baligh. Apapun kesalahan dilegalkan dengan kata: masih kecil. Padahal sekali lagi, sudah baligh. Cara berpakaian yang aneh di waktu kecil. Lagi-lagi berdalih: masih kecil. Shalat yang tak terjaga. Puasa yang tak terlatih.
    Itu cinta orangtua yang memenjarakan anak-anaknya.
    Kecintaan seseorang pada pasangannya, juga tak boleh memenjarakan. Sehingga tugas-tugas mulia sebelum menikah terhenti karena pernikahan. Ini sangat aneh, karena dalam Islam pernikahan itu melengkapi setengah agama. Itu seharusnya, pernikahan membuat kita hidup semakin produktif.  Bukan sebaliknya.
    Jangan atas nama cinta, dia tak lagi bisa menuntut ilmu. Sibuk dengan rutinitas rumah tangga yang padat.
    Jangan atas nama cinta, dia kelelahan sehingga tak lagi seproduktif dulu. Sibuk mengurusi kecemburuan. Lelah dengan pertikaian. Penat dengan setumpuk masalah.
    Jangan atas nama cinta, kakinya terikat sehingga tak bisa lari. Padahal banyak yang harus dikejarnya. Banyak yang harus segera diselesaikan. Bukan justru mundur beberapa langkah.
    (jangan salah paham dengan kalimat ini, karena benar bahwa wanita mempunyai rumah yang memberi kemuliaannya dan bukan di luar sana)
    Tapi cinta tak boleh memenjarakan. Membatasi ruang gerak. Justru dengan cinta seharusnya gerak kita semakin bergelora, bergairah dan lebih menghasilkan.
    Cinta pernah bercerita kepada kita bahwa ia pernah membuatkan dua penjara bagi manusia mulia. Penjara sumur dan penjara jeruji besi.
    Bukan cinta ini yang kita mau...

    Sumber : Penjara Cinta

    Penelitian Ilmiah Tentang Manfaat Pernikahan di Usia Muda

    Pernikahan belia adalah sesuatu yang diperintahkan Nabi yang mulia sebelum 14 abad yang lalu. Hari ini, para peneliti menemukan bahaya memperlambat pernikahan dan menjauhinya. Bahkan mereka mengulang-ulang kalimat Nabi yang agung tanpa mereka sadari.
    Setiap para ilmuwan mengungkap sebuah ilmu yang baru, selalu dijumpai ternyata Nabi alaihish sholatu wassalam tidak pernah terlewatkan menyebutnya! Al Quran adalah kitab ajaib yang mencakup rahasia langit dan bumi. Dan sunnah –tanpa diragukan lagi- bahwa ia juga wahyu dari Allah tabaraka wata’ala. Untuk itulah, ia seperti Al Quran yang mencakup rahasia, keajaiban dan mu’jizat yang tak terhitung jumlahnya.
    Sebelum saya paparkan kepada para pembaca tercinta penemuan para ilmuwan terakhir tentang pernikahan belia, saya ingat bagaimana kaum atheis dan sekuler menghina hadits-hadtis Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di mana mereka mengolok-olok  pernikahan belia yang tercantum dalam sabda Nabi: (Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang memiliki kesanggupan maka menikahlah). Mereka berkata: sesungguhnya Muhammad tidak mempunyai ambisi apapun kecuali masalah pernikahan dan anak.
    Tetapi datanglah ilmu yang mengungkap kebenaran Nabi dan dustanya pernyataan kaum atheis itu!
    Sejak beberapa tahun yang lalu, semenjak meningkatnya masalah penyakit AIDS dan penyakit-penyakit seksual lainnya yang menimpa jutaan manusia yang disebabkan oleh zina dan perbuatan keji, para peneliti menyerukan pentingnya pernikahan belia untuk menjaga kesehatan individu dan menyelamatkannya dari kematian yang disebabkan oleh kekejian dan kelainan seksual tersebut.
    Para ilmuwan menemukan bahwa pernikahan terlambat, yaitu yang terjadi setelah usia 40 tahun mempunyai keburukan-keburukan sosial dan psikologis. Keadaan psikologis manusia sangat membaik ketika ia mempunyai pasangan dan anak. Sebagian penelitian pun mengamati bahwa mereka yang tidak menikah dari kalangan orang-orang berusia tua, lebih berluang besar terkena serangan jantung dan keguncangan jiwa.
    Kemudian datanglah sebagian penelitian yang menguatkan pentingnya pemenuhan sisi perasaan pada diri manusia agar ia menikmati kesehatan yang lebih baik. Mereka menguatkan bahwa orang-orang yang menikah lebih bahagia dan memiliki imunitas tubuh yang lebih kuat dibandingkan mereka yang lebih memilih hidup sendiri tanpa pasangan. Di sinilah terlihat dengan jelas kebenaran firman Allah:
    (وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ)
    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Qs. Ar Rum: 21)
    Ayat ini mengisyaratkan ketenangan jiwa yang terjadi pada manusia setelah ia menikah dengan kata (لتسكنوا = Agar kalian tenang). Ayat juga mengisyaratkan untuk pemenuhan sisi perasaan dengan firman Nya (مودة ورحمة = rasa kasih dan sayang). Ini adalah kemu’jizatan ilmiah yang tidak diketahui oleh seorang pun masa itu. Bahkan para rahib menduga bahwa pernikahan itu membahayakan manusia, maka mereka pun menjauhi pernikahan. Karenanya Rasulullah melarang: Tidak ada kerahiban dalam Islam!
    Pada penelitian yang lain, para ilmuwan mendapati bahwa orang yang menikah mempunyai kemampuan lebih besar untuk berkontribusi dan berinovasi. Wanita yang menikah mempunyai lebih banyak kekuatan cinta, kelembutan dan karya. Penelitian menyatakan bahwa mereka yang telah tua dan belum menikah mempunyai kecenderungan perilaku permusuhan dibandingkan yang lain. Di waktu bersamaan mereka mempunyai kecenderungan untuk menyendiri. Hal itu disebabkan mereka menyalahi sunnah kauniyah dan tabiat.
    Adapun penelitian yang paling terakhir sebagaimana yang dipublikasikan oleh Koran Daily Mail Inggris tentang fenomena aneh yang diamati oleh para peneliti di Universitas Aarhus, Denmark (Ini adalah negara yang mempunyai prosentase pemahaman atheis yang sangat besar), setelah mereka melakukan penelitian terbesar di bidang ini di mana dilakukan pada 100.000 anak. Mereka mendapati bahwa anak-anak yang dilahirkan dari ayah yang berusia belia mempunyai umur lebih panjang dibanding yang lainnya. Pernikahan terlambat pun menyebabkan kelahiran anak yang mempunyai prosentase keguncangan lebih besar.
    Di tengah pengamatan mereka terhadap 100.000 anak itu, mereka membuat statistik detail tentang kesehatan anak-anak. Dan mereka mendapati bahwa anak-anak yang meninggal sebelum berumur  1 tahun berjumlah 831 anak. Kebanyakannya terlahir dari para ayah yang terlambat dalam menikah. Mereka juga menemukan yang lain dalam penelitian ini seperti perbedaan tingkat kecerdasan dan yang lainnya. Inilah kalimat mereka yang mengingatkan tentang bahaya terlambatnya pernikahan:
    The researchers warned: The risks of older fatherhood can be very profound and it is not something that people are always aware of.
    Yaitu, para peneliti mengingatkan para ayah yang terlambat, membawa resiko bahaya dan dalam yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Dan mari kita lihat bagaimana para peneliti Denmark menyerukan dan mengingatkan bahaya menjadi ayah terlambat (padahal mereka adalah ilmuwan yang kebanyakannya atheis dan tidak mengakui Islam).
    Maka saya katakan: Subhanallah! Bukankah ini yang seruan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam 14 abad yang lalu!!
    Bukankah Nabi agung itu yang bersabda: Siapa yang membenci sunnahku, bukan dari golonganku!
    Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam berlepas diri dari manusia yang menolak pernikahan dan bagaimana beliau mengungkapkan pernikahan sebagai ibadah dan sunnah yang akan Allah berikan pahala bagi yang melaksanakannya. Lihatlah bagaimana Nabi membawa ajaran-ajaran yang kesemuanya adalah kebaikan, manfaat dan untuk menjauhkan kita dari berbagai penyakit.
    Sebagian penelitian mengisyaratkan bahwa di dalam tubuh setiap kita mempunyai waktu khusus untuk menikah! Ada waktu dan umur terbatas, di mana seseorang harus menikah. Yaitu pada usia dua puluhan atau lebih sedikit. Jika ia terlambat, akan memberi dampak pada sel-sel tubuh, sperma, ovum. Selanjutnya akan membuka peluang besar untuk terjadinya masalah kejiwaan dan fisik yang akan menimpa anak-anak.

    *Sebuah web pribadi milik Ir. Abdul Daeem Al Kaheel, seorang ilmuwan dan peneliti yang telah lama meneliti kemu’jizatan ilmiah Al Quran dan Sunnah yang telah menulis sangat banyak makalah ilmiah dan buku-buku yang salah satunya menyabet penghargaan Dubai Internasional kategori Al Quran Al Karim: Angka 7 dalam Al Quran
     
     
    Ketika Abu Salamah radhiallahu anhu sedang sakaratul maut, Ummu Salamah yang ada di sampingnya bertanya sedih: Kepada siapa kau serahkan diriku? Abu Salamah menjawab dengan doa: Ya Allah, sesungguhnya Engkau bagi Ummu Salamah lebih baik dari Abu Salamah. (HR. Abu Ya’la, dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah Shahihah)
    Setelah Abu Salamah meninggal, Rasulullah melamar Ummu Salamah.
    Berikut penuturan langsung Ummu Salamah tentang kisahnya dilamar Rasulullah,
    “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah dan berkata sebagaimana yang diperintahkan Allah (innalillahi wa inna ilaihi rajiun), ya Allah beri aku pahala dalam musibah ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya, kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.
    Ummu salamah berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata: adakah muslimin yang lebih baik dari Abu Salamah? Keluarga pertama yang hijrah menuju Rasulullah. Kemudian aku membaca doa tersebut dan Allah mengganti untukku Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
    Ummu Salamah berkata: Rasulullah mengutus Hathib bin Abi Balta’ah untuk melamarkanku untuk beliau.
    Aku pun berkata: Aku ini mempunyai anak dan aku wanita yang sangat pencemburu.

    Rasul menjawab: Adapun anakmu kita berdoa semoga Allah memberinya kecukupan dan aku berdoa kepada Allah agar menghilangkan cemburu itu.” (HR. Muslim)
    Dalam Al Ishobah, Ibnu Hajar menambahi kisah di atas. Ummu Salamah berkata:
    “Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam melamarku, aku berkata kepada beliau: aku punya tiga masalah: Aku sudah berusia, aku wanita banyak anak dan aku sangat pencemburu.
    Beliau menjawab: Aku lebih berusia darimu, adapun anak-anak serahkan kepada Allah dan adapun cemburu aku berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkannya darimu.
    Dan Nabi pun menikahinya.”
    Dalam Al Ishobah karya Ibnu Hajar dan Ma’rifatush Shahabah karya Abu Nu’aim, disebutkan bahwa Ummu Salamah menuturkan,
    “Ketika selesai masa iddahku, beliau minta izin untuk menemuiku. Saat itu saya sedang menyamak kulit. Akupun mencuci kedua tanganku. Aku kemudian mengizinkan beliau. Aku letakkan bantal kulit berisi serat kulit pohon. Beliau duduk di atasnya. Beliau melamarku.
    Ketika beliau selesai bicara aku berkata: Ya Rasulullah, aku tidak setara denganmu, adapun aku tertarik kepadamu. Tetapi aku ini seorang wanita yang sangat cemburu, aku takut engkau melihat dariku sesuatu yang tidak kau sukai hingga kelak Allah akan mengadzabku karenanya. Aku seorang wanita yang sudah berusia. Dan aku mempunyai anak-anak.
    Rasul menjawab:
    Adapun yang kau sebutkan tentang cemburu, Allah akan menghilangkannya darimu. Sedangkan usia, aku pun berusia sepertimu. Dan tentang anak-anak, anak-anakmu adalah anak-anakku.
    Ummu Salamah menjawab: Aku terima ya Rasulullah.
    Rasul pun menikahi menikahinya. Ummu Salamah berkata: Allah telah menggantikan Abu Salamah dengan yang lebih baik darinya.”
    Ummu Salamah dilamar Nabi setelah selesai masa iddahnya. Tak perlu ditanyakan persetujuan dan bahagianya Ummu Salamah. Tetapi dia merasa bahwa dirinya tidak setara dengan beliau. Dia khawatir hanya akan menjadi beban bagi Rasulullah. Karena sadar ketidaksetaraan itu.
    Karena Ummu Salamah mempunyai tiga masalah besar:
    Ummu Salamah mempunyai sifat cemburu yang besar. Sebagai wanita mulia, dia sangat khawatir akan membuat suaminya kelak murka dan karena itu ia akan mendapatkan adzab Allah. Begitulah wanita shalihah. Dia khawatir kecemburuan menjerumuskannya berbuat perbuatan yang membuat suaminya marah dan kemudian Allah pun murka karenanya.
    Ummu Salamah merasa telah berusia. Walaupun sebenarnya saat itu usianya baru di kisaran 27 tahun. Tetapi Ummu Salamah sedang membandingkan dirinya dengan Aisyah (9 tahun) dan Hafshah (21 tahun) yang telah dinikahi Nabi.
    Ummu Salamah mempunyai anak-anak. Disebutkan dalam sejarah bahwa Ummu Salamah mempunyai tiga anak: Salamah, Umar dan Zainab. Anak-anak yang masih kecil ini akan menjadi beban bagi suaminya kelak.
    Ummu Salamah memang wanita cerdas. Ia yang senang dilamar Rasul, menjelaskan di depan semua masalah tentang dirinya. Hingga kelak suaminya tidak terkejut dengan keadaan dirinya dan telah siap menghadapi semuanya. Mengingat Ummu Salamah bukanlah seorang gadis yang hadir seorang diri tanpa beban dan masalah.
    Ini menjadi pelajaran mahal bagi siapapun akan menjalani hal serupa. Seorang wanita janda yang telah berpengalaman berumah tangga dengan laki-laki sebelumnya, hendaknya mengisahkan semua hal yang berpotensi menimbulkan masalah bagi rumah tangga barunya. Pun laki-laki yang ingin menikahinya harus mengukur kemampuan dirinya dan kesiapannya menghadapi semua masalah tersebut.
    Rasulullah memiliki jawaban untuk ketiga masalah yang disampaikan oleh Ummu Salamah. Menunjukkan kesiapan beliau.
    Rasulullah menjawab tentang calon istrinya yang merasa sudah berusia, bahwa beliau pun telah berusia bahkan lebih. Jelas jauh berbeda, karena saat itu Rasul telah berusia 57 tahun. Setidaknya terpaut 30 tahun beda dengan Ummu Salamah.
    Selesai satu permasalahan, berikut jawaban untuk masalah kedua.
    Rasulullah menjawab tentang anak-anak Ummu Salamah, bahwa beliau mengajak Ummu Salamah untuk menyerahkan kepada Allah. Ini menarik. Karena pembahasan tentang anak-anak, apalagi seorang ibu janda yang membawa anaknya dan anak-anak akan mendapatkan ayat tiri. Jika kita mengukur hari ini, kata tiri sering kali menjadi momok. Maka, kata yang sangat tepat bicara tentang anak-anak dan masa depan mereka adalah menyerahkan kepada Allah yang Maha Memelihara, Mengetahui masa depan, dan Maha Pemberi Rizki.
    Tapi Rasul pun memberikan jaminan sebagai manusia: Anakmu adalah anakku. Begitulah yang harus dilakukan. Inilah yang harus disadari oleh seorang laki-laki yang mau menikahi seorang janda dengan membawa anak. Ia tidak boleh hanya mencintai ibunya tapi mengabaikan anak-anak. Karena kebahagiaan seorang ibu tak hanya pada dirinya yang diperhatikan, tapi juga pada anak-anaknya yang dibahagiakan. Membahagiakan anak-anaknya berarti melengkapi kebahagiaan ibunya. Rasul bertanggung jawab penuh terhadap anak-anak Ummu Salamah. Walau mereka bukan anak kandung Nabi.
    Dan masalah ketiga, berbeda dengan dua masalah di atas.
    Rasulullah menjawab tentang sifat cemburu Ummu Salamah yang besar. Apalagi dia bukan istri satu-satunya. Sudah ada istri-istri sebelumnya. Pasti posisi Ummu Salamah yang sangat pencemburu itu tidak mudah. Dia membayangkan ketidaknyamanannya terhadap keberadaan wanita-wanita yang lebih dahulu telah ada di kehidupan Nabi. Yang bisa jadi hadir di benak Ummu Salamah adalah bahwa dia hanyalah seorang wanita baru di keluarga Nabi. Dia pasti sudah membayangkan perilaku Nabi di antara istri-istrinya akan membuatnya cemburu. Sebagai wanita mukminah yang baik, dia tidak mau berbuat maksiat karena cemburu yang akan menimbulkan tindakan tidak nyaman darinya kepada calon suaminya.
    Dan ternyata, Rasul tidak punya jawaban.
    Tidak ada jaminan dari diri beliau sebagai manusia. Tidak sama dengan dua masalah di atas yang beliau memberikan jawaban dari diri beliau sebagai seorang makhluk. Dalam bab cemburu, Nabi hanya bisa berkata: Semoga Allah menghilangkannya darimu. Beliau hanya bisa menyerahkan kepada Allah. Mengapa? Jawabnya jelas, karena itu urusan hati. Dan bukankah beliau sendiri yang mengatakan bahwa hati ada di antara jari-jari Allah yang Maha Rahman. Bukan beliau sendiri yang berdoa: “Ya Allah inilah pembagianku di antara istri-istriku yang sanggup aku lakukan, maka janganlah Kau hukum aku pada sesuatu yang tidak aku miliki dan itu Kau miliki.” Nabi sedang membicarakan tentang pembagian fisik yang harus adil dan beliau sanggup melakukannya. Tetapi tentang pembagian hati, beliau harus menyerahkan kepada Allah.
    Keluhan Ummu Salamah tentang cemburu hanya mendapat jawaban doa. Pelajaran bagi setiap keluarga tentang cemburu yang diduga akan merusak jika telah melampaui batas. Meringankannya dengan mengadu kepada yang Maha Menggenggam hati.
    Dengan semua jawaban dan jaminan Nabi sebagai manusia itu, pernikahan berkah itupun berlangsung. Dan benar-benar Ummu Salamah adalah pendamping Nabi yang luar biasa. Membaca sejarah keluarga mulia ini, kita bisa belajar peran Ummu Salamah yang dahsyat dalam kebesaran kehidupan Rasulullah.
    Untuk urusan cemburu yang Nabi tidak bisa memberikan jaminan, apakah kekhawatiran Ummu Salamah terjadi. Ternyata Rasul hidup nyaman bersama Ummu Salamah. Menunjukkan bahwa Rasul dan Ummu Salamah berhasil dalam doanya. Untuk meredam cemburu yang melampaui batas.
    Tapi bacalah kisah dalam Ath Thabaqat Al Kubra karya Ibnu Saad berikut ini. Dari Abdurrahman bin Al Harits,
    “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang di perjalanannya. Dalam perjalanan itu beliau bersama Shafiyyah binti Huyay dan Ummu Salamah. Rasulullah mendekat ke Haudaj (ruangan di atas punggung unta) yang dihuni oleh Shafiyyah binti Huyay. Sementara Rasul menduga bahwa itu adalah Haudaj Ummu Salamah. Dan hari itu adalah jatah Ummu Salamah. Rasulullah pun berbincang dengan Shafiyyah (karena salah duga haudaj). Maka Ummu Salamah pun cemburu. Setelah Rasul tahu bahwa ternyata ia berbincang dengan Shafiyyah, maka beliau mendatangi Ummu Salamah. Dan Ummu Salamah berkata: Engkau berbincang dengan putri yahudi di hari jatahku, padahal engkau Rasulullah!
    Tapi setelah itu Ummu Salamah menyesal dengan kalimatnya. Dan memohon ampun pada Allah atas ucapan itu.
    Dan Ummu Salamah berkata: Ya Rasulullah mohonkan ampun untukku. Yang membuatku seperti itu adalah kecemburuan.”
    Dari kisah tersebut, ternyata Ummu Salamah tetap mempunyai rasa cemburu. Maka berarti yang disampaikan Nabi semoga Allah menghilangkannya adalah kecemburuan yang salah dan menyebabkan keburukan. Adapun kecemburuan bukti cinta ia akan tetap ada. Dan justru menjadi bukti cinta.

    Potret Keluarga Dalam Al Qur'an

    Jika setiap kita ditanya, apa kitab sucinya, akan dijawab Al Quran. Jika ditanya, apa mukjizat terbesar Nabi kita, akan dijawab: Al Quran Jika ditanya, apa fungsinya, akan dijawab di antaranya: sebagai hudan (petunjuk)
    Bahkan ditanamkan ke dalam diri setiap kita bahwa Al Quran adalah sumber segala ilmu. Hingga hari ini ramai dibahas tentang kemukjizatan ilmiah Al Quran.
    Tapi sayang, sementara ini Al Quran masih disingkirkan dari fungsinya sebagai panduan bagi keluarga muslim.
    Bicara tentang pola hubungan suami dan istri, sumbernya bukan Al Quran. Membahas tentang komunikasi orangtua dan anak, diambil dari berbagai teori yang bukan dari Al Quran. Bagaimana melahirkan orang-orang besar dari rahim keluarga, tidak mengacu pada ayat-ayat Al Quran. Tolok ukur keberhasilan rumah tangga juga terlalu sederhana, karena tidak menggali dari jernihnya mata air Al Quran.
    Apalagi jika telah bicara teknis. Banyak yang berpikir bahwa Al Quran global dan tidak rinci. Sehingga, Al Quran hanya dijadikan stempel legalitas untuk melegalkan tips-tips yang terkadang menabrak Al Quran sendiri. Musibah...
    Pendidikan seksual untuk anak, umpamanya. Dikarenakan bukan diambil dari Al Quran dan Nabi, maka hasilnya justru mengerikan. Alih-alih membuat anak menjadi berhati-hati dalam pergaulan, mereka malah pulang dari seminar dengan otak kotor. Mengapa? Karena sumbernya justru teori musuh Islam yang disadari atau tidak, sering mengandung racun yang dikemas dengan madu. Kasihan, keluarga muslim...
    Maka, sudah saatnya kita berlari kembali kepada Al Quran dan Sunnah Nabi. Panduan yang abadi dan tidak akan rusak oleh apapun zaman yang dilaluinya. Panduan yang telah melahirkan generasi hebat pemimpin bumi lebih dari 1000 tahun.

    Dari Nabi Hingga Manusia Biasa

    Beberapa Nabi digambarkan oleh Al Quran sebagai kepala rumah tangga. Sehingga menjadi pelajaran dan keteladanan bagi keluarga kita.
    Masing-masing dengan karakter keluarga yang berbeda-beda. Kisah-kisah itu disampaikan dengan pelajaran yang berbeda-beda.
    Nabi Ibrahim umpamanya, sosok yang digambarkan sangat dominan sebagai sosok ayah istimewa. Semua sepakat bahwa Ibrahim adalah ayah hebat karena tidak saja melahirkan orang shaleh tetapi melahirkan dua Nabi sekaligus; Ismail dan Ishaq. Dari keduanya, lahir para Nabi berikutnya.
    Subhanalloh...
    Keberhasilan Ibrahim dalam melahirkan dua muara kemuliaan itu, ditebarkan kisahnya dalam sekian banyak Surat dalam Al Quran. Bahkan ada satu surat sendiri yang bernama Surat Ibrahim. Sebegitu pentingnya untuk mendapatkan perhatian setiap keluarga muslim.
    Setiap lantunan doa Ibrahim mengandung pelajaran sangat agung bagi konsep pendidikan keluarga. Bahkan susunan kata serta urutan tema doanya, sungguh di dalamnya terdapat panduan penting bagi keluarga yang ingin melahirkan muara kemuliaan.
    Uniknya, Al Quran tidak hanya menyampaikan keberhasilan para Nabi di dalam rumah tangga. Nabi Nuh, ditegur Allah dalam Surat Hud karena kegagalannya mendidik salah satu anak laki-lakinya. Teguran itu seharusnya tidak membuat kita masih terus bertahan dengan dalih kegagalan Nabi Nuh, saat ada di antara kita yang gagal mendidik anaknya. “Nabi Nuh saja gagal mendidik anaknya, apalagi hanya saya...” begitulah dalih sebagian kita. Kalau hal itu untuk menghibur diri sesaat tidak masalah. Tetapi jika untuk lari dari tanggung jawab, ketahuilah bahwa Nabi Nuh saja telah ditegur Allah karenanya. Kisah Nuh gagal mendidik anaknya, lengkap dengan penyebab utamanya dalam Surat At Tahrim.
    Hingga potret keluarga Rasulullah Muhammad yang diabadikan dalam Al Quran. Ada yang menggelitik perhatian kita tentang cara Al Quran mengabadikan keluarga Rasulullah. Jika Ibrahim sangat dominan digambarkan perannya sebagai kepala keluarga, Rasulullah Muhammad justru digambarkan dengan cara sebaliknya. Justru yang banyak digambarkan dari keluarga Rasulullah adalah pihak wanita;Ummahatul Mu’minin (istri-istri beliau). Apa pelajaran di balik semua ini? Itulah pentingnya kita menelurusi ayat per ayat dalam Al Quran untuk meraih pelajaran dan panduannya bagi keluarga kita.
    Tak hanya para Nabi yang digambarkan dalam Al Quran. Keluarga manusia biasa juga digambarkan dalam Al Quran. Jika semua Nabi adalah manusia pilihan, walapun sebagian mereka gagal mendidik keluarganya. Manusia biasa yang keluarganya diabadikan dalam Al Quran ada dua macam; orang yang baik dan orang yang jahat. Orang yang baik diwakili oleh Imron dan Luqman. Orang jahat diwakili oleh Abu Lahab dan istrinya.
    Ada yang lagi-lagi sangat menarik. Dari 114 Surat dalam Al Quran, hanya satu surat yang namanya mengandung kata: keluarga. Yaitu Ali Imron (keluarga Imron). Padahal Imron bukanlah Nabi. Seakan ada sebuah perintah agar kita punya fokus dalam mengambil pelajaran dari keluarga manusia biasa yang istimewa ini. Sebuah keluarga yang utuh keberhasilannya. Pasangan, anak hingga cucu. Bagaimana caranya, harus menelusuri kata per kata dalam ayat-ayatnya.
    Kalau Imron adalah tokoh di masyarakatnya, bahkan seorang imam besar. Berbeda lagi dengan Luqman yang hanya masyarakat biasa. Bukan pemimpin. Hanya seorang penggembala kambing miskin yang tersingkirkan. Lengkap dengan penampilan yang tidak dilirik orang sama sekali. Tetapi, Allah muliakan dalam Al Quran. Bahkan nasehatnya dipilih Allah dari sekian banyak nasehat para ayah hebat di muka bumi ini. Jelas, ini bukan sembarang ayah. Pelajaran sangat khusus bagi setiap ayah.

    Hanya Satu Sahabat, Itupun Tentang Keluarga

    Dari ratusan ribu sahabat Nabi yang mulia. Dari orang-orang istimewa yang ada di antara mereka. Dari para pemimpin mulia dari kalangan sahabat yang tercatat istimewa dalam sejarah. Dari yang telah dijamin masuk surga. Dari banyak kisah mereka yang diabaikan dalam Al Quran.
    Hanya ada satu sahabat saja yang namanya secara jelas disebut dalam Al Quran.
    Ya, hal itu ada dalam Al Ahzab: 37. Sahabat itu adalah Zaid bin Haritsah radhiallahu anhu, putra angkat Rasulullah. Tentu ada sebuah fokus pelajaran yang ingin disampaikan Al Quran. Ternyata pembahasan ayat tersebut, selain tentang sebuah hukum dalam syariat Islam, berbicara tentang: Keluarga.
    Bacalah ayat tersebut dan kita pun akan terheran-heran. Karena ternyata yang dikisahkan malah tentang retak dan karamnya bahtera rumah tangga.

    Lho, mengapa?
    Ya, karena di sana ada sebuah masalah serius pada keluarga umat Muhammadshallallahu alaihi wasallam ini.

    Antara Anak Laki dan Perempuan

    Ada pembahasan bagaimana melahirkan anak laki-laki yang istimewa seperti Ismail dan Ishaq (anak dari Ibrahim), Yusuf (anak dari Ya’qub), Sulaiman (anak dari Dawud). Atau pelajaran dari kegagalan mendidik anak laki-laki seperti kisah salah satu putra Nuh.
    Ternyata, secara khusus Al Quran menyampaikan tentang potret keluarga yang berhasil mendidik anak perempuan. Dalam Surat Al Qoshosh disebutkan kisah dua wanita sholehah yang berinteraksi dengan Musa. Sebagian ulama tafsir menyebut bahwa dua wanita itu adalah putri dari Nabi Syu’aib.
    Dari sinilah lahir sebuah karya ilmiah, tesis S2 di Universitas Yarmuk, Yordan. Ditulis oleh Lina Ahmad Muhamad Mulhim dengan judul: Ash Shifat at Tarbawiyyah lil Maratil Muslimah fil Quranil Karim (Pendidikan wanita muslimah dalam Al Quran Al Karim).
    Sungguh sebuah panduan yang sangat lengkap...

    Berorientasi Hasil

    Apapun latar belakang keluarga, yang penting hasilnya istimewa. Tidak setiap keluarga beruntung sejak awal. Kalau Nabi Dawud adalah raja, kemudian Sulaiman juga menjadi raja. Maka itu kita katakan lumrah.
    Tetapi dari kampung di pelosok padang pasir. Hidup dalam perjalanan yang setiap segmennya adalah cobaan berat. Ternyata mampu menghantarkannya sampai di kursi kepemimpinan negeri besar Mesir. Bacalah bagaimana Ya’qub menghantarkan Yusuf dari baduwi hingga singgasana Mesir.
    Ada yang hidup dalam asuhan langsung orangtuanya sendiri. Ada yang hidup dalam asuhan orang lain. Apapun, hasilnya harus tetap istimewa. Lihatlah dengan jeli bagaimana ayat berbicara lahirnya wanita termulia di muka bumi ini: Maryam
    Kesalahan yang dilakukan oleh seorang suami atau seorang istri dalam perjalanan hidup rumah tangga, tetap tidak boleh menggagalkan hasil yang baik. Kisah keluarga Nabi Muhammad dalam Al Quran mewakili hal tersebut. Tapi, siapa yang tidak kenal dengan putra-putri dan cucu beliau.

    Sangat Teknis...

    Sekali lagi, salah yang menganggap bahwa Al Quran sangat global dan tidak bicara teknis. Bagi yang menganggapnya seperti itu, berarti belum pernah menggali Al Quran secara dalam sebagaimana para ahli tafsir mengkaji. Karena Al Quran mengandung ilmu besar bahkan pada pilihan kata dan hurufnya.
    Lihatlah dengan mata para ahli tafsir tentang teknis sangat detail berhadapan dengan ibu hamil. Yaitu dalam Surat Maryam: 22 – 26. Jika diberi judul: Bahaya kesedihan bagi Ibu Hamil dan cara mengatasinya.
    Dahsyat bukan...
    Bahkan ayat-ayat tersebut menantang para peneliti untuk datang meneliti setiap kata dari ayat-ayat tersebut.
    Contoh lain, sebuah tesis S2 di Universita Ummul Quro, Mekah membahas tentang aplikasi pendidikan dari dialog orangtua dan anak dalam Al Quran. judul tesis tersebut adalah: Hiwar al Aba’ ma’al Abna’ fil Quranil Karim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyyah (Dialog antara orangtua dan anak dalam Al Quran Al Karim dan aplikasi pendidikannya). Ditulis oleh: Sarah binti Halil Al Muthairi.
    Di mana dibahas oleh penulisnya bahwa ada 17 tema dialog antara orangtua dan anak dalam Al Quran yang dicantumkan dalam 9 Surat. Apa saja isinya dialognya, bagaimana cara berdialog yang baik, apa aplikasi pendidikannya bagi keluarga kita, dan sebagainya, merupakan pembahasan yang dikaji detail dalam tesis tersebut.

    Single Parent

    Pembahasan tentang orangtua yang sendirian mengasuh anaknya, menjadi permasalahan yang dibahas serius oleh berbagai kelas parenting hari ini. Karena memang tidak mudah menjadi single parent dalam mengawal pendidikan anak-anak.
    Tetapi lagi-lagi, belum menjadikan Al Quran sebagai acuan utamanya.
    Al Quran memberikan dua potret orangtua yang seorang diri membesarkan dan mendidik anaknya hingga berhasil.
    Potret pertama adalah single parent hakiki. Yaitu seorang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya seorang diri, dikarenakan suaminya telah wafat.
    Potret kedua adalah single parent majazi (kiasan). Yaitu seorang ibu yang membesarkan dan mendidik anaknya seorang diri, dikarenakan suami jauh dari dirinya dalam waktu yang lama.
    Yang pertama adalah potret Hana membesarkan dan mendidik Maryam, tanpa Imron yang telah wafat.
    Yang kedua adalah potret Hajar membesarkan dan mendidik Ismail di lembah Mekah, tanpa Ibrahim yang tinggal di Palestina.
    Bagaimana bisa tetap lahir Maryam dan Ismail yang hebat dan mulia, kita harus belajar dari Hana dan Hajar.
    Sungguh, ini hanya sebagian dari begitu banyaknya pelajaran yang diberikan Al Quran kepada setiap keluarga muslim.
    Ini hanya mukaddimah. Parenting Nabawiyah telah menyiapkan materi ini dalam 30 pertemuan. Semoga segera bisa dinikmati oleh keluarga muslim.
    Ya Allah bimbing kami...
     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Tutorial Cara Berjilbab - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger